Jumat, 11 September 2009

BUDI DAYA CABAI

1. Umur produktif cabai Bisa diperpanjang hingga dua puluh bulan

Selama ini tanaman cabai yang diusahakan petani rata – rata berumur enam bulan , semusim. Dengan umur tersebut biasanya tanaman hanya bisa dipetik sebanyak enam belas kali petikan atau paling banyak dua puluh kali. Setelah itu, umumnya tanaman cabai mulai menurun produksinya. Oleh karena itu, petani cabai kebanyakan hanya mempertahankan tanaman cabai pada umur tidak lebih dari enam bulan, paling lama delapan bulan. Lebih dari umur tersebut tanaman cabai sudah tidak bisa dipertahankan kalaupun dipertahankan, dianggap tidak ekonomis sebab buah yang dihasilkan tidak sesuai dengan keuntungan yang diperoleh.

Persepsi petani cabai tersebut mungkin saja benar, tetapi tidak seratus persen. Ternyata dengan pengalaman dan teknologi budi daya yang baik tanaman cabai bisa diperpanjang umur produktifnya sampai delapan belas bulan lebih dengan masa pembungaan dan produksi secara terus menerus tanpa henti.

Perpanjangngan umur produktif tersebut membuat jumlah petikan, biasanya antara 16 – 20 petikan dalam setiap periode, meningkat menjadi 60 kali pemetikan. Lebih dari itu, tanaman sudah sulit lagi dipertahankan karena akar dan batangnya tidak mampu mendukung pertumbuhan selanjutnya.

Bagaimana kiat memperpanjang umur produktif cabai tersebut?
Sebenarnya tidak terlalu sulit, tetapi perlu diketahui bahwa untuk itu banyak faktor yang menentukan, misalnya keadaan tanah yang akan ditanami harus betul – betul dijamin kesuburannya. Faktor lain yang tidak kalah penting ialah pengolahan tanah harus betul – betul halus dan remah serta kedisiplinan atau ketepatan dalam pemberian pupuk dan obat.

Selama ini beberapa faktor tersebut kurng begitu diperhatikan. Petani beranggapan, dengan pemberian pupuk secara berlebih dan pengobatan semuanya bisa diatasi. Anggapan semacam iti mungkin saja benar, tetapi namanya di lapangan banyak sekali faktor penentu keberhasilan. Apalah artinya pemberian pupuk yang berlebihan kalau kondisi tanahnya sendiri kurang mendukung, kurang subur.

Begitu juga dengan pengolahan. Tanah yang subur juga tidak menjamin tanaman berkembang dengan baik dan panjang umur kalau pengolahan tanah kurang baik dan kurang merata. Tanaman cabai hanya bisa berkembang baik bilamana kondisi tanah cukup gembur, remah, dam mempunyai kandungan bahan organik yang cukup.

Pengalaman Ian Wahyu, seorang petani cabai di daerah Wajak, Malang, menunjukkan bahwa kunci keberhasilan memperpanjang umur produktif tanaman cabai, dari yang biasanya enam bulan menjadi dua puluh bulan , pada dasarnya ditentukan oleh beberapa hal, diantaranya lahan yang digunakan harus subur dan dekat sumber air. Faktor lainnya ialah mamajemen pengolahan yang baik. Artinya, segala pengolahan harus didasarkan atas petunjuk yang ada. Misalnya poemilihan bibit harus benar – benar hibrid serta pemupukan dan pengobatan harus dilakukan tepat waktu dan tepat penggunaan komposisi.

Dalam memperpanjang umur prosuktif cabai sebaiknya dihindari pemberian pupuk kimia yang berlebih.sisa dari kelebihan pupuk tersebut justru akan berdampak negative bagi penanaman selanjutnya, selain memperboros biaya pemupukan. Begitu juga pengobatan harus dilakukan tepat waktu dan komposisi yang digunakan harus tepat.

Dalam memperpanjang tidak ada istilah penyemprotan dilakukan setelah ada serangan. Pengobatan harusa diberikan secara rutin dan berseling (sistemiki, kontak). Hal itu dilakukan untuk mencegah serangan hama dan penyakit. Sudah bukan rahasia lagi kalau tanaman cabai sangat peka terhadap hama dan penyakit, penanggulangannya biasanya akan lebih sulit.

2. Pemilihan Lokasi yang Tepat untuk Budi Daya

Selama ini petani cabai konvensional hanya berbekal pengalaman saja sehingga faktor – faktor penunjang keberhasilan budi daya yang lain jarang dipikirkan secara mendalam. Petani saelalu beranggapan bahwa semua lahan pertanian cocok untuk budi daya tanaman cabai. Padahal, untuk mencapai hasil yang optimum, kita harus memperhatikan ketinggian tanah, suhu, curah hujan, kesuburan tanah, dan jenis tanah yang cocok untuk pertumbuhan tanaman cabai. Untuk itu, hal – hal tersebut akan dijelaskan di sini.

A. Ketinggian, Suhu, Kelembapan, dan Curah Hujan.
Pada dasarnya tanaman cabai dapat tumbuh pada ketinggian antara 0 – 1,800 meter dari permukaan laut. Di ketinggiasn ini tanaman cabai banyak dibudidayakan sebagai tanaman pekarangan, di tanam di pematang – pematang sawah, sebagai tanaman tumpang sari, atau tanaman monokultur.

Suhu rata – rata yang baik untuk pertumbuhan cabai adalah 18 – 280c. meskipun demikian suhu yang benar – benar optimal adalah 21 – 280c. khusus cabai besar, suhu rata- rata yang optimal antara 21 – 250c, untuk fase pembungaan dibutuhkan suhu udara antara 18,3 – 26,70c. suhu rata – rata yang terlalu tinggi dapat menurunkan jumlah buah. Suhu rata – rata di atas 320c dapat mengakibatkan tepung sari menjadi tidak berfungsi. Suhu rata – rata yang tinggi pada malam hari juga dapat berpengaruh kurang baik terhadap produksi cabai.

Tanaman cabai dikenal sebagai tanaman yang tidak begitu tahan terhadap curah hujan yang tinggi. Curah hujan yang tinggi pada saat cabai sedang berbunga dapat mengakibakibatkan rontoknya bunga sehingga buahpun berkurang. Meskipun tidak menyukai curah hujan yang tinggi, tanaman cabai akan tumbuh dengan baik di daerah dengan kelembapan udara yang tinggi. Untuk cabai yang kecil, sedikit lebih tahan terhadap hujan dibanding cabai besar.

Selama ini beberapa daerah di pulau Jawa yang dikenal sebagai penghasil cabai adalah Wates, Wonosobo, Pekalongan, Kuningan, Majalengka, Cirebon, dan Blora.

B. Kesuburan tanah
Pengertian kesuburan tanah mencakup tiga hal ; kesuburan biologis, fisik, dan kimia. Tanah mempunyai kesuburan biologis yang baik apabila kandungan biologi dalam tanah yang berpengaruh terhadap tanah cukup tinggi. Cacing merupakan salah satu unsur biologi tanah yang mempunyai peranan cukup baik terhadap sifat fisik maupun kimia tanah. Cacing dapat mempercepat proses pelapukan bahan organik Tanah yang kaya akan jenis biologi tersebut umumnya memiliki kondisi yang gembur dan sangat subur.

Tanah mempunyai kesuburan fisik yang baik apabila kondisi tanah tersebut mampu menyediakan udara dan air tanah. Tanah yang gembur berarti mempunyai kandungan udara yang cukup tinggi.

Tanaman cabai sendiri merupakan kelompok tanaman yang tidak tahan terhadap kelebihan air dalam tanah atau kekurangan udara. Tanaman cabai yang ditanam pada tanah yang sering jenuh air tumbuhnya kurang baik dan mudah diserang penyakit layu.

Kesuburan kimia adalah kemampuan tanah untuk menyediakan unsur hara yang dibutuhkan cabai. Tanah yang subur berarti kaya akan unsur hara. Tanaman cabai merupakan jenis tanaman sayuran yang sangat membutuhkan unsur nitrogen dan fosfor.

Kandungan unsur nitrogen yang dikehendaki untuk pertumbuhan cabai yang optimal kurang lebih 0,02 %. Kandungan nitrogen tanah kurang dari 0,02% dapat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman. Disamping itu, kandungan unsur fosfor juga harus cukup. Kandungan P2O5 sebaikya berkisar antara 16-25 ppm (Bray I) atau 26-45 ppm (Olsen).

Kalium juga dibutuhkan, tetapi cabai tidak menuntut kandungan kalium yang tinggi. Kandungan kalium tanah antara 5 – 24 me/100g sudah dianggap untuk pertumbuhan cabai.

Sifat kimia tanah lainnya yang berpengaruh terhadap keberhasilan pertumbuhan dan produksi cabai adalah KTK (Kapasitas Tukar Kation), salinitas, kandungan aluminium, dan kedalaman pirit. Tanaman cabai akan tumbuh baik pada dengan KTK lebih kecil dari 16 me/100 g, nilai salinitas kurang dari 2 mmhos/cm, kandungan aluminium kurang dari 20%, dan kedalaman pirit harus lebih dari 150 cm.

C. Jenis Tanah
Tanah yang cocok untuk tanaman cabai agar tumbuh dengan baik dan dapat hidup lebih panjang adalah tanah yang gembur, keasaman antara 5,5 – 6,8 , kandungan unsur hara cukup seimbang, dan kaya bahan organik.

Selain itu, tanaman cabai akan lebih kalau ditanam pada daerah datar dengan lereng kurang dari 3%, kandungan batuan dipermukaan kurang dari 5%, kelas drainase baik, tektur tanah lempung, lempung liat berpasir, debu, lempung liat berdebu, lempung berliat, atau lempung berdebu. Kedalaman air efektif untuk tanaman, cabai sebaiknya lebih dari 50 cm.

Perlunya persyaratan tanah yang ketat sebagaimana tersebut diatas karena tanah sangat penting sekali untuk menunjang kesuburan tanaman selama masa vegetatif maupun generatif. Struktur tanah yang remah akan sangat membantu sekali perkembangan perakaran tanaman sejak awal. Bila perakaran berkembang biak, kemudian didukung dengan ketersediaan bahan organik dalam tanah yang cukup, akan menjadikan tanaman akan tumbuh dengan subur, baik saat perkembangan vegetatif maupun pada saat memasuki generatif. Jadi, ketersediaan bahan organik dalam tanah sangat menguntungkan tanaman. Pada saat memerlukan unsur hara, tanaman dapat langsung memanfaatkan bahan organik yang sudah ada dalam tanah. Dengan demikian, tanaman akan tumbuh subur. Dampak positif selanjutnya, selain produksi buah tinggi, ialah periode berbuah akan semakin panjang.

Jenis tanah yang potensial untuk dikembangkan sebagai lahan pertanian tanaman cabai di Pulau Jawa atau di beberapa daerah di Indonesia cukup banyak. Agar dapat memberikan hasil yang optimal, masing – masing jenis tanah tersebut perlu perlakuan yang berbeda.

Untuk daerah dataran tinggi (lebih 400 m) pada umumnya didominasi oleh jenis tanah andosol (andisol), mediteran (inceptisol), dan litosol (interceptisol). Untuk dataran rendah, pada umumnya didominasi oleh tanah regosol (entisol), grumosol (vertisol), dan alluvial (entosol).

1 Mediteran
Mediteran adalah tanah yang sudah berkembang dengan kandungan liat cukup tinggi. Mediteran dijumpai dari dataran rendah sampai ketinggian 400 meter dari permukaan laut. Pada umumnya tanah dengan ketinggian tersebut memiliki curah hujan antara 800-2.500 mm/tahun, bulan kering 3-5 bulan

Bahan induk tanah jenis ini biasanya batu kapur, batuan sedimen, atau tuf vulkan basa. Topografi berombak sampai berbukit. Tanah mediteran umumnya mempunyai ciri solum agak tebal, 1-2 meter, dengan warna tanah merah sampai kekuning-kuningan. Teksturnya lempung sampai liat, struktur tanah gembur hingga sedikit teguh.

Keasaman tanah antara 6,0-7,5. kandungan bahan organik pada umumnya kurang dari 3% dengan kejenuhan basa cukup tinggi, 60-100%. Permeabilitas tanah sedang dengan kepekaan terhadap erosi besar hingga sedang.

Berdasarkan kondisi lahan tersebut, apabila jenis tanah ini akan diusahakan untuk budidaya cabai, perlu dipilih yang bertekstur lempung, lempung berliat, debu, atau lempung liat berdebu. Jangan memilih tanah dengan tekstur liat.

Cabai yang ditanam pada tanah berliat harus diberi saluran drainase yang memadai. Tanah mediteran pada umumnya kekurangan nitrogen. Untuk itu, pupuk nitrogen masih dibutuhkan dalam budi daya tanaman cabai pada tanah ini. Pupuk fosfor dengan dosis cukup tinggi cukup dibutuhkan untuk tanah mediteran yang mempunyai bahan induk kapur atau dengan pH di atas 7,0. penambahan bahan organik diperlukan untuk memperbaiki kondisi fisik dan kesuburan tanah jenis mediteran.

2 Grumosol
Di Jawa, tanah ini mempunyai penyebaran yang sempit. Tanah grumosol mempunyai kandungan fraksi liat halus lebih dari 30 %. Hampir semua jenis tanah tersebut mempunyai tektur liat. Kandungan karbon organik rendah, sekitar 1%. Jumlah tersebut terus menurun dengan meningkatnya kedalaman tanah.

Kandungan besi bebas pada umumnya meningkat dengan meningkatnya kedalaman tanah. Keasaman tanah berkisar antara netral sampai agak alkalis, ph 6,3 – 7,8. pada horizon dekan dengan bahan induk kapur keasaman tanah dapat mencapai 7,8. nilai KTK tanah pada lapisan atas berkisar 39 me/10 g, sedang dilapisan bawah dapat mencapai 45 me/100g.

Grumosol pada umumnya dijumpai di daerah dengan curah hujan antara 1000 – 2500 mm/tahun dengan bulan kering sekitar empat bulan atau lebih. Bahan induk umumnya berasal dari bentuk margel, endapan liat, atau tuf volkan. Oleh karena itu, kebanyakan jenis tanah ini berada diketinggian lebih dari 200 meter dari permukaan laut.

Tanah grumosol dicirikan dengan selum agak tebal, 1-2 meter, dengan keadaan tanah keras di lapisan atas dan penjal atau menggumpal pada lapisan bawah. Kejenuhan basa sangat tinggi, 80 – 100%. Kesuburan tanah pada umumnya tinggi karena kaya akan basa-nas.

Tanaman cabai yang diusahakan pada tanah ini pada umumya tumbuh cukup baik apabila dikelola dengan baik. Hal ini disebabkan kebutuhan unsur hara telah tersedia dalam tanah. Dengan demikian, bilamana dilakukan penambahan pupuk, jumlah yang diberikan lebih sedikit. Untuk penanaman di lahan yang subur ini, hal yang justru harus diperhatikan adalah pengendalian hama penyakit. Oleh karena itu, pembuatan saluran drainase harus diperdalam agar air bisa mengalir lebih lancar dan kelembapan di sekitar tanaman tidak sampai tinggi. Kelembapan yang tinggi pada tanaman cabai dapat menjadi sumber malapetaka. Penyakit dan hama cabai cepat berkembang biak bila kelembapan sekitar tanaman tinggi.

Walaupun tanaman jenis grumosol mempunyai bahan organik dari luar sangat diperlukan mengingat tanaman cabai memasuki fase generatif (berbuah) sangat membutuhkan unsur hara dalam jumlah yang relative besar. Dengan penambahan bahan organik dari luar, akan dapat memenuhi kebutuhan tanaman setiap tanaman tersebut memerlukan.

3 Andosol
Andosol merupakan tanah daratan tinggi yang umumnya berkembang dari bahan induk abu vulkan. Kandungan bahan organik cukup tinggi dan berwarna agak gelap. Andosol umumnya dijumpai pada ketinggian diatas 1.000 meter. Cirri tanah ini adalah berat jenisnya sangat ringan, kurang dari 0,85 g/cm3.

Tanah andosol mempunyai kemampuan yang tinggi dalam hal penyerapan air karena mempunyai nilai KTK antara 34 – 54 me/100 g, struktur tanah gembur sehingga mudah menyerap air . ciri lain pada tanah ini sering dijumpai karatan besi dan mangan. Kondisi ini menunjukkan andosol mempunyai kelembapan yang cukup tinggi.

Keasaman tanah antara 5,2 – 6,9. keasaman tanah yang diukur dengan pelarut NaF pada umumnya berkisar pada 9,4. kondisi ini menunjukkan adanya kandungan mineral amor yang cukup tinggi. Mineral ini mampu mengikat fosfat cukup tinggi, antara 75 – 90 %. Kandungan fosfor hanya berkisar antara 0,15 – 0,20 ppm.

Rendahnya kandungan fosfor diduga menjadikan tanah ini kurang baik untuk tanman cabai. Bilamana menemukan lahan semacam ini, sebaiknya dihindari. Bila dipaksakan , pertumbuhan tanaman cabai tidak bisa optimal kecuali sebelum tanam tanah diperlakukan secara khusus. Namun, itu tidak mungkin karena biaya yang diperlukan tidak seimbang dengan keuntungan yang diperoleh dari hasil tanam cabai.

4 Regosol
Regosol adalah tanah mineral yang belum berkembang, mempunyai testur pasir karena kandungan fraksi pasirnya lebih dari 60% sampai kedalaman 25 – 100 cm. regosol kadang – kadang berlapis- lapis antar pasir pasirnya lebih dari 60% sampai kedalaman 25 – 100 cm. regosol kadang – kadang berlapis- lapis antara pasir dan kerikil atau padas yang agak permeabel.

Bahan induk tanahnya adalah abu vulkan, mergel, atau pasir pantai . untuk kandungan unsur hara , tanah regosol sangat tergantunga pada jenis bahan induk yang membentuknya. Pada umumnya tanah regosol miskin unsur hara karena mudah tercuci. Makin kasar teksturnya makin miskin unsur hara, khususnya N, P, K dan Mg.

Penghambat penggunaan tanah ini di samping miskin unsur hara juga sering kekurangan air. Pemberian bahan organik dengan dosis tinggi merupakan salah satu cara pengelolaan yang tepat untuk membantu perbaikan tanah tersebut.

Pada umumnya petani mau mengusahakan tanah tersebut bila berdekatan dengan sungai karena lahan tersebut boros air. Walaupun diusahakan dekat sungai tetap sulit untuk mendapatkan produksi cabai yang optimal.

5 Alluvial
Tanah alluvial mempunyai sifat yang sangat berfariasi. Tanah ini dapat dibedakan menjadi tiga kelompok : alluvial recent, subrecent, dan tua. tanah alluvial recent dijumpai dalam jumlah terbatas hanya pada bahan alluvial akhir , seperti lahan yang berada di sekitar sungai Brantas dan anak sungainya atau didaratan yang sering menjadi kantung banjir.

Tanah alluvial subrecent dijumpai pada teras – teras yang lebih tinggi dari DAS Brantas. Alluvial tua terdapat pada daratan yang lebih tinggi, biasanya bahan alluminiumnya berasal dari batuan vulkanik dasar, batuan kapur, martl, batuan beku, batuan pasir, batuan tuf dasar.

Tanah alluvial biasanya mempunyai solum yang dalam, bertekstur kasar sampai agak halus, dan warna abu – abu. Jika sering tergenang air, akan timbul bercak – bercak besi atau mangan. Tanah alluvial yang berbahan endapan debu atau liat biasanya cukup subur untuk lahan budi daya untuk tanaman cabai. Tanah – tanah alluvial umumnya mempunyai Ph agak asam sampai netral dan kejenuhan basa sedang sampai tinggi.

6 Litosol
Tanah ini mudah sekali dikenal karena solunya dangkal, umumnya kurang dari 50 cm. biasanya tanpa horizon yang jelas. Kalaupun ada, terlihat sangat lemah. Warna tanah bervariasi demikian juga teksturnya. Keasaman tanah, kandungan bahan organik, kejenuhan basa dan kandungan unsur hara sangat beragam.

Penggunaan tanah ini untuk budi daya cabai harus dipertimbangkan benar – benar. Beragamnya tingkat kesuburan tanah, kebanyakan memiliki bahan organik yang relative rendah, membuat jenis tanah ini kurang menguntungkan untuk budi daya cabai.

3. Penyemaian Benih

Benih yang digunakan dalam budi daya cabai supaya umur produktifnya bisa panjang harus unggul dan hibrida. Benih seperti ini selanjutnya meliputi penyiapan media semai, pengecambahan benih, pemindahan bibit ke polybag, dan perawatan persemaian.

A. Penyemaian Media Semai
Tanah yang digunakan untuk media semai sebaiknya banyak mengandung bahan organik. Tanah yang dimikian biasanya banyak terdapat dibawah rumpun bambu Tanah tersebut kemudian dicampur dengan pasir (3 bagian tanah dan 1 bagian pasir). Campuran tanah dan pasir ini lalu diayak sampai diperoleh butiran yang halus.

Butiran tanah yang halus ini diberi pupuk organik yang sudah matang. Selanjutnya ditambahkan furadan untuk sterelisasi. Pemberian berguna untuk menghindari adanya hama dan penyakir yang terbawa dalam tanah dalam campuran tadi.

Setelah diberi Furaden, tanah disiram air (memakai gembor) sampai agak basah. Tanah yang agak bawah ini lalu diberi basamide, 150 gram basamide untuk 1m3tanah). Basamide dapat berfungsi sebagai insectisida, fungisida, bakterisida, nematisida, dan herbisida. Bila terkena air, basamide akan mengeluarkan gas metal isotiosianat yang dapat membunh hama atau bakteri dalam tanah.
Media semai ini selanjutya ditutup plastik selama 10 – 14 hari agar gas dari basmide tetap berada dalam pori –pori tanah sehingga efektif dalam membunuh bakteri tanah. Setelah empat belas hari, tutup plastik dibuka dan dibiarkan selama tujuh minggu. Setelah itu, media semai dimasukkan ke polybag dan siap digunakan.

B. Pengecambahan Benih
Sebelum disemai, benih perlu dikecabahkan terlebih dahulu untk mengecambahkan benih, diperlukan prlengkapan berupa kotak pemeraman dari kaleng roti, lampu pijar 40 watt, kain lap atau handuk, kertas Koran, pasir steril, thermometer dan fungisida. Jika perlengkapan ini telah tersedia, pengecambahan dapat segera dilaksanakan. Urutan pelaksanaannya adalah sebagai berikut.
1. Siapkan air 1 litrer ditambah Balte 0,5 gram atau Orthocide 1 gram (pilih salah satu).
2. Benih direndam ke dalam larutan tersebut selama 6 – 8 jam, kemudian ditiriskan. Setelah agak kering, benih tersebut dibungkus dengan kain lap atau handuk yang dibasahi.
3. Benih yang sudah terbungkus rapi tadi dimasukkan ke dalam kotak pemeraman yang dilengkapi lengan lampu 40 watt. Lampu dinyalakan dan diarahkan ke lubang tutup kotak.
4. Setelah satu jam suhu di dalam kotak perlu dikontrol dengan thermometer. Usahakan suhu dalam kotak berkisar antara 32 – 340c. bila suhu kurang dari itu, lampu lebih didekatkan ke lubang tutup kotak.
5. Setelah dua hari dalam kotak pemeraman, keluarkan calon akar dari biji cabai selanjutnya cambah siap dipindahkan ke polybag.

C. Pemindahan Kecambah ke Polybag
Pemindahan kecambah ke polybag harus dilakukan dengan hati – hati. Kecambah yang sehat harus didahulukan pemindahannya. Tahap – tahap pemindahannya adalah sebagai berikut.
1. Sehari sebelum pemindahan kecambah, polybag harus sudah terisi media yang sudah disiapkan sebelumnya dan harus disiram dua kali sampai kondisi media tersebut lembap hingga pada bagian dasarnya.
2. Kecambah dari kotak pemeraman dipindah ke suatu wadah, misalnya piring,lalu satu persatu dipindah ke polybag. Pemindahan dilakukan dengan menggunakan ujung jari telunjuk (diambilsatu benih, lalu diletakkan di permukaan media polybag tepat di tengahdan agak ditekan masuk kedalam kira – kira sedalam 0,25 cm)
3. Setelah kecambah dipindah semua, permukaan polybag ditimbun tipis dengan sisa media pupuk kompos. Ketebalan penimbunan kira – kira 0,3 cm, asal benih tidak sampai terbuka.
4. Untuk sementara, penyiraman dilakukan dengan mempergunakan sprayer agar kecambah tidak terlempar keluardan permukaan media tetap gembur.
5. Polybag yang telah berisi kecambah selanjutnya dipindah ke tempat persemaian.

Kecambah dalam polybag teresebut sekanjutnya dipelihara sampai berumur 21 hari di tempat persemaian . Tempat persemaiannya bisa setengah lingkaran menggunakan penutup kain kasa atau seperti gubuk dengan penutup anyaman bambu.

Dari dua macam tempat persemaian tersebut yang lebih baik dan aman adalah yang berbentuk setengah leingkaran dengan penutup kain kasa. Tempat persemaian seperti ini tidak perlu dibuka atau ditutup pelindungnya karena cahaya yang masuk tidak lagi 100%, melainkan antara 60 – 70%, tergantung ukuran lubang kain kasa. Kain kasa juga membuat tanaman aman dari gangguan hama, dapat menekan datangnya penyakit, dan lubih mudah dalam penyiraman.

D. Perawatan Persemaian
Agar tanaman di persemaian tidak kekurangan air, perlu dilakukan penyiraman tiga kali sehari dengan menggunakan gembor. Permukaan media semai diusahakan jangan sampai kelihatan kering.

Untuk menghindari embun dan sinar matahari secara langsung yang dapat membuat stres atau matinya bibit, polybag dapat ditempatkan di dalam cangkup yang ditutup kain kasa atau strimin hijau 7 – 10 hari. Bil kesulitan mendapatkan kain strimin, bibit tersebut bisa diberi naungan dari daun tebu.

Setelah kecambah tumbuh, sedikit demi sedikit dibiasakan dengan sinar matahari langsung dengan cara membuka sedikit strimin penutupnya. Dengan cara ini, bibit yang telah berumur 15 hari atau 5 – 7 hari menjelang dipindah ke lahan sudah kuat terhadap sengatan matahari. Semua dilakukan agar pertumbuhan bibt bisa normal dan saat pindah tanam kelayuan bibit karena stres oleh sengatan matahari bisa ditekan sekecil mungkin.

Bila ada serangan penyakit rebah bibit yang disebabkan oleh cendawan phytophtora capsici, dilakukan penyemprotan dengan Benlate(dosis 0,5 gram perliter air) sehari tiga kali. Serangan penyakit ini biasanya ditandai dengan munculnya bercak basah pada pangkal batang tau leher akar, selanjutnya bibit rebah.

Bila dalam persemaian ada serangan hama seperti trip, aphid, tungau, ulat, dan lainnya persemaian bisa disemprot dengan insectisida Omite, Monitor, atau Sumicidine dengan dosis 0,5 – 1 cc per liter air. Setiap kali selesai melakukan penyemprotan dengan pestisida, sebaiknya dicuci lagi dengan air biasa. Caranya, ulangi penyemprotan, tetapi hanya dengan air, tanpa pestisida.

Setelah umur bibit dalam polybag mencapai 21 hari atau sudah berdaun 5 – 7 helai, bisa dipindahkan ke lahan penanaman. Pemindahan ke lahan sebaiknya dilakukan sore hari. Pada sore hari intensitas matahari cukup rendah sehingga tanaman tidak layu. Setelah bibit ditanam di lahan, perlu dilakukan penyiraman secukupnya agar tanah basah dan lembap.

Pemberian air tidak perlu terlalu banyak. Berdasarkan pengalaman, pemerian air yang berlebihan akan berakibat terbawanya tanah oleh air yang dapat membuat akar menonjol dan terkena matahari langsung. Misalnya perkembangan tanaman terhambat akibat sebagian akar tidak berfungsi secara optimal dan tanaman tumbuh miring.


4. Teknik Budi Daya untuk Memperpanjang Umur Produktif Cabai

Pada teknik budi daya ini ada beberapa faktor yang harus diperhatikan. Faktor – faktor yang harus diperhatikan tersebut adalah pengolahan tanah, pemeliharaan tanaman, dan cara pemanenan.

A. Pengolahan Tanah
Pengalaman Ian wahyu, salah seorang petani sukses di daerah Wajak, Malang, menunjukkan bahwa pengolahan lahan merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam budi daya cabai sampai bisa panen 60 kali. Itu sudah beberapa kali berhasil. Oleh karena itu , pengolahan tanah harus dilakukan secara benar. Berikut ini adalah tahap – tahap pengolahan tanah yang perlu dilakukan.

1. Tahap pertama pengolahan tanah ialah pembajakan dan pencangkulan. Ini berguna untuk menghaluskan tanah hingga gumpalan tanah menjadi betul – betul remah. Perlu diperhatikan bahwa pengolahan tanah yang baik menentukan umur masa panen. Pada tahap ini juga perlu dilakukan pengukuran Ph tanah. Setelah diketahui Ph tanahnya , bisa ditentukan jumlah doloit atau kapur yang diperlukan. Dolomite atau kapur selanjutnya disebar secara merata di atas lahan, kemudian baru dibajak.

Pembajakan harus dilakukan sampai pada batas top soil (Lapisan atas tanah) dengan kedalaman sekitar 25 cm. setelah itu , baru di aliri sampai titk jenuh, lalu dibiarkan sampai sedikit kering, baru dilanjutkan dengan penggaruan. Sepaya Lumpur tidak keluardari lahan, pada saat penggaruan semua lubang pembuangan harusa ditutup rapat. Penggaruan berfungsi untuk menghancurkan bongkahan – bongkahan tanah agar menjadi halus. Halusnya struktur tanah akan membuat tanaman dapat tumbuh dan berkembang dengan baik

Setelah penggaruan selesai, dilakukan pengeringan dengan cara membiarkan lahan tersebut sampai lima hari. Setelah tanah kering , remah, dan terbebas dari gulma, tahap selanjutnya adalah pembuatan bedengan.

2. Tahap kedua adalah pembuatan bedengan. Bedangan untuk penanaman pada musim hujan harus lebih tinggi dan jarak antar bedengan sebaiknya sedikit lebih lebar dibandingkan kalau bertanam pada musim kemarau. Hal itu untuk menghindari terjadinya kelembapan permukaan tanah yang tinggi yang dapat memacu perkembangan penyakit.

Lebar bedengan sekitar 115 cm, tinggi antara 45 – 50 cm dengan lebar parit antara 50 -60 cm. panjang bedengan tergantung luas lahan. Nmun, sebaliknya tidak terlalu panjang, cukup 15 m.

Untuk penanaman pada musim penghujan, semakin tinggi bedengan akan semakin baik kerena semakin dapat menghindari penyakit layu yang sering muncul pada tanaman cabai. Semakin tinggi guludan sirkulasi udara tanah akan semakin baik sehingga tidak sampai terjadi kelembapan yang tinggi.

3. Setelah bedengan jadi, perlu ditambahkan campuran pupuk organik yang telah masak. Tiap hektarnya sebanyak 4 Kwintal ditambah TSP 4 kuintal yang dicampur dengan dolomite. Pencampuran hrus betul – betulo merata. Banyaknya dolomite yang diberikan ke bedengan sebaiknya di sesuaikan dengan Ph tanah. Table kebutuhan Dolomit untuk berbagai tingkat keasaman tanah berikut ini dapat dijadikan patokan.

Tabel Kebutuhan Dolomit untuk Berbagai Tingkat Keasaman Tanah
Tingkat keasaman tanah
(Ph) Jumlah dolomit yang diperlukan
(ton/ha)

4,50
4,75
5,00
5,25
5,50
6,00
6,25
7,87
6,65
5,50
4,30
3,00
0,75
0,30


4. Sertelah bedengan dicampur dengan pupuk organik, TSP dan dolomite, perlu ditambahkan basamide (ditaburkan pada masing – masing guludan) sebanyak 40 -50 kg/ha. Setelah itu ,baru tanah pada bedengan tersebut diolah sampai kedalaman 25 cm hingga merata. Kemudian pekerjaan dilanjutkan dengan penutupan mulsa plastik hitam perak sampai 14 hari.

Setelah itu, mulsa dibuka dan dibongkar supaya gas-gas bisa keluar da biarkan sampai tujuh hari. Sebelum ditutup kembali, bedengan perlu diberi tambahan 5 kuintal ZA/ha dan 3 kuintal KCL/ha. Setelah itu, bedengan dihaluskan dengan bambu atau kayu. Bila sudah cukup halus, baru mulsa tersebut ditutupkan kembali.

Pemasangan mulsa plastik paling sedikit dilakukan oleh tiga orang. Orang pertama memegang ujung plastik dan menempelkan pada ujung bedengan. Orang kedua memegang gulungan plastik sambil melokornya sepanjang bedengan dan memotong pada bagian ujungnya. Orang ketiga memegang dibagian tengah untuk mencegah tiupan angina sekaligus meluruskan mulsa. Kemudian plastik dibeber dan dari ujung ditarik sampai benar-benar rapat, lalu dipasak denagan bambu. Demikian juga dengan bagian samping kiri dan samping kanan, ditarik rapat dan dipasak setiap 1,5 m.

Perlu dperhatikan, mulsa plastik warna hitam dihadapkan ke bawah, sedangkan warna perak menghadap ke atas. Warna hitam dapat menimbulkan kesan gelap sehingga dapat menekan pertumbuhan rumput atau gulma penganggu, sedangkan warna perak dapa memantulkan sinar matahari yang secara tidak langsung dapat menekan hama aphid, trips , dan tungau. Dengan demikian, secara tidak langsung juga mengurangi serangan virus.

5. Setelah bedengan tertutup rapi, dilakukan pembuatan lubang tanam, diameter 8 – 10 cm. untuk membuat lubang , bisa menggunakan alat dari kaleng yang dipotong melintang kemudian dibuat bergerigi seperti gergaji. Alat ini digunakan dengan cara ditekankan pada mulsa plastik dengan sedikit diputar. Jarak lubang untuk penanaman 60 – 70 cm dua baris. Maksudnya, 70 cm antarbaris dalam satu bedengan dan 60 cm dalam satu baris. Jarak lubang tanam dari tepi bedengan sekitar 25 cm.

setelah lahan sudah siap, besoknya bibit berumur 21 hari yang sudah siap ditempat persemaian dipindahkan ke lubang – lubang tanam tersebut. Perlu diperhatikan, sehari sebelum bibit dipindahkan , tempat persemaian harus diairi dulu. Pemindahannya sendiri sebaiknya dilakukan pada pagi hari hingga pukul 10.00 atau sore hari pukul 14.30 agar bibit tidak stres akibat sengatan matahari.

B. Pemeliharaan Tanaman
Setelah dipindah ke lahan, tanaman memerlukan tahap – tahap pemeliharaan seperti berikut ini.

1. Pemupukan pertama dilakukan pada saat tanaman berumur delapan hari setelah ditanam di lahan. Pada umur tersebut pupuk yang digunakan adalah pupuk cair, campuran NPK sebanyak 3 Kg dengan ZA 4 Kg yang dilarutkan dalam 200 liter air. Cara pemupukan ini dilakukan dengan cara kocor. Pemupukan dilakukan dengan interval 5 hari sekali sampai 5 kali atau sampai tanaman mulai muncul buah. Fungsi dari pemupukan ini untuk mempercepat pertumbuhan vegetatif.

2. Selama pemupukan perlu juga diperhatikan munculnya tunas pada batang. Umumnya tunas muncul sekitar 20 hari setelah tanam. Kalau muncul tunas pada batang, harus dirempel. Begitu juga bunga pertama, bunga yang muncul sekitar 20 hari setelah tanam harus dibuang. Hal ini berguna untuk mengoptimalkan pergembangan vegetatif tanaman dan menghindari munculnya serangan penyakit secara serentak dikemudian hari. Dengan perempelan bunga perkemmbangan daun tanaman akan semakin sempurna sehingga hasil fotosistesis yang diperoleh cukup untuk perkembangan vegetatif tanaman.

Untuk penanaman pada ketinggian di atas 100 meter dari permukaan laut, perempelan tunas pada cabang utama harus dilakukan sedini mungkin. Keterlambatan perempelan akan menghambat pertumbuhan vegetatif dan tanaman mudah terserang penyakit. Daun tua atau daun yang terserang penyakit juga perlu dirempel.

Perempelan harus sudah selesai pada saat panen pertama. Keuntungan dari perempelan itu antara lain menjaga agar kelembapan udar asekitar tanaman tidak terlalu tinggi, penyemprotan obat – obatan bisa lebih merata, memperbaiki warna dan kualitas buah, serta meningkatkan produksi.

3. Pengobatan pertama pada tanaman yang baru dipindahkan di lahan dilakukan pada saat tanaman berumur sepuluh hari setelah tanam. Pengobatan dilakukan lagi pada saat tanaman berumur lim belas hari dengan anti biotic, misalnya agrimicin. Obat ini diberikan dengan cara dikocor atau disiramkan pada pangkal batang. Pengobatan selanjutnya dilakukan dengan interval dua minggu sekali. Dosis yang digunakan sebaiknya sesuai dengan petunjuk pada kemasan obat tersebut.
4. Pada saat tanaman berumur lima belas hari atau pada saat cabang – cabang produktif mulai terbentuk (mulai berbunga), tanaman harus sudah diberi ajir. Panjang ajir antara 130 – 140 cm. ujung ajir ditancapkan di samping dalam tanaman dengan agak dimiringkan keluar bedengan, 70 – 800, kemudian tanaman diikat renggang pada lanjaran tersebut.

Sebelum tajuk tanaman mulai rimbun, di samping kiri dan kanan tanaman harus sudah selesai dibuatkan penopang mendatar dari tali atau bilah bambu. Penopang mendatar ini diikatkan pada ajir(penopang tegak) satu ke ajir lainnya dal msatu baris. Tujuannya untuk menopang buah yang lebat pada tajuk tanaman. Selain itu , pemberian ajir akan meluruskan tanaman dalam setiap bedengan sehingga dapat mempermudah pemupukan, pengobatan, maupun pemanenan.

5. Pada saat tanaman menginjak dewasa (umur dua belas bulan) atau setelah petik pertama, dilakukan pemupukan susulan yang pertama dengan komposisi ZA, TSP, KCl, dan pupuk organik dengan perbandingan 1 : 2 : 1 : 1 yang dicampur menjadi satu sampai merata. Tingginya unsure P pada komposisi tersebut dimaksudkan untuk memperkuat perakaran tanaman. Dengan perakaran yang kuat, diharapkan penyerapan unsure hara oleh tanaman dapat berjalan lebih optimal. Pupuk susulan ini diberikan pada tugalan di kanan dan kiri batang, kira – kira berjarak 15 cm dari batang. Dosis pemberian 30 gram/batang.

Pemupukan susulan ini bisa menggunakan pupuk NPK yang dicampur dengan KNO3 dengan perbandingan 5 : 1. kalau menggunakan pupuk ini, cara pemberiannya dengan system kocor. Misalnya 10 Kg NPK + 2 Kg KNO3 dicampur dengan air 200 liter untuk 1.000 batang tanaman. Tiap tanaman mendapat 200 cc.

Pemupukan susulan ini dilakukan secara kontinu setiap 12 hari sekali atau setiap 4 kali petik buah. Bila dalam perkembangannya buah yang ada pada tanaman syarat maka jumlah pupuk yang diberikan harus diperbanyak agar terjadi keseimbangan antara kebutuhan dan kesediaan unsure hara pada tanah. Komposisi pencampuran pupuk dan tempo pemberian tetap setiap empat kali petik.

C. Pemanenan
Setelah tanaman berumur sekitar dua bulan setelah tanam atau buah pertama mulai memerah, pemanenan pertama sudah bisa dilakukan. Pemanenan sebaiknya dilakukan pada pagi hari. Hal ini untuk menjaga kesegaran buah, selain itu pemetikan pagi hari akan memperberat timbangan buah Karena belum banyak kandunagn air yang menguap. Proses pemetikan ini biasanya dilakukan tiap tiga hari sekali. Adapun proses dan tata cara pemanenan sendiri tidak boleh asal petik, sebab dapat berakibat pada rusaknya tangkai, dan rusaknya tangkai akan mengakibatkan perkembangan tanaman terganggu.

Cara pemetikan yang benar tidak asal tarik. Buah dipegang, kemudian didongakkan ke atas. Dengan cara ini buah akan putus dengan mudah tanpa merusak cabang tanaman. Cara pemanenan yang dilakukan dengan baik sedikit banyak akan membanu memperpanjang umur tanaman cabai.

5. Mecegah dan Mengidentifikasi Serangan Hama serta Penyakit

Agar produktifitas tanaman cabai tetap tinggi, serangan hama dan penyakit harus dicegah. Jika hama dan penyakit terlanjur menyerang, harus segera diberantas. Berikut ini adalah uraian tentang cara – cara mencegah dan memberantas serangan hama dan penyakit pada tanaman cabai.

A. Mencegah Serangan Hama dan Penyakit
Mencegah serangan hama dan penyakit merupakan tindakan yan gpeling efektif dan efisien karena tanaman cabai yang terlanjur terserang hama dan penyakit cukup sulit diobati sehingga pasti menurun produksinya. Bila sudah demikian, biaya pengobatan akan membengkak sementara produksi tidak bisa optimum.

Sebagai upaya pencegahan yang baik, tanaman harus diusahakan bebas hama dan penyakit. Pencegahan yang intensif dan rutin sangat diperlukan oleh tanaman cabai. Berikut ini contoh dan cara penggunaan pestisida untuk mencegah serangan hama dan penyakit.
Contoh insektisida (obat pembasmi serangga)
No Merek Dosis

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Curacron 500 EC
Decis 2,5 EC
Lanatte
Matador 25 EC
Mesurol 50 WP
Monitor 200 LC
Nuvacron 20 SCW
Orthene 75 WP
Sumicidin 5 EC
Tamaron 200LC
1-2 cc/l air
0,5-1 g/l air
1-2 cc/l air
1-2 cc/l air
1-2 cc/l air
1-2 cc/l air
1-2 cc/l air
0,5-1 g/l air
1-2 cc/l air
1,5-2,5 cc/l air

Contoh fungisida (obat pembasmi jamur/ cendawan)
No Merek Dosis

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Antracol 70 WP
Beniate 20/20 WP
Copper Sandos
Daconil 75 WP
Delsene MX 200
Dithane M-45
Manzate 200
Orthocide 50 WP
Topsin M 70 WP
Trimiltok
1,5-2,5 g/l air
0,5-1 g/l air
1-2 g/l air
1-2 g/l air
0,5-1 g/l air
0,5-2,5 g/l air
0,5-2,5 g/l air 1-2 g/l air
1-2 g/l air
1-2 g/l air

Contoh perekat dan perata
No Merek Dosis

1
2
3
4
5
Agristic
Sandovit
Shelestol
Tenec Sticker
Triton
2-3 cc/l air
2-3 cc/l air
2-3 cc/l air
2,5-3,5 cc/l air
2,5-1 cc/l air

Untuk aplikasi pengobatan, sebaiknya kita pilih salah satu pestisida dan salah satu perekat di atas, kemudian dicampur dan disemprotkan ke tanaman. Pengobatan ini harus rutin dan tepat waktu dengan ketentuan sebagai berikut.

1. Harus disiplin, baik pekerja maupun mandor. Khusus pada saat pengobatan, baik cara, waktu, dan campuran obat – obatan (dosis) yang dipakai harus tepat.
2. Harus dilakukan pencucian setiap dua hari sekali dengan air bersih yang ditambah dengan perekat 75 cc dan fungisida sebanyak 10 gram pertangki semprot yang berisi 15 liter. Pencucian dilakukan mulai 04.30 padi, yang penting sebelum matehari sudah harus selasai. Pencucian bisa menggunakan hand spayer.

3. Pengobatan dilakukan 8 – 12 hari sekali pada musim kemarau dan 5 – 10 hari sekali pada musim penghujan. Pelaksanaan pengobatan harus sudah selesai sebelum matahari terbit.

4. Penggunaan obat – obatan, terutama fungisida, harus dilakukan secara berselang antara sistemik dan kontak. Hal itu untuk menghindari munculnya kekebalan pada hama dan penyakit yang menyerang. Contohnya sebagai berikut ini.


Pengobatan pertama :
- Benlate (fungisida sistemik)
- Multimikro (pupuk daun)
- Omite (insectisida)
- Perekat

Pengobatan kedua :
- Dakonil (fungisida kontak)
- Omite
- Vitamax
- Perekat

Pengobatan ketiga :
- Benlate (fungisida sistemik)
- Matador
- Multimikro
- Perekat

Begitu seterusnya, yang penting dalam penggunaan obat – obatan di atas harus sesuai dengan dosis atau petunjuk penggunaan. Untuk berhasil, kita harus betul – betul jeli dalam memperhatikan tanaman. Kalau perlu kita harus menganggap tanaman tersebut adalah diri kita sendiri dan kita harus menjiwainya. Kita harus mengawasi agar dalam pemupukan dan pengobatan betul – betul dilakukan secara merata. Pengobatan dihentikan pada akhir masa panen.

B. Identifikasi Serangan Hama dan Penyakit Serta Penanganannya
Serangan hama dan penyakit terhadap tanaman cabai bisa dideteksi melalui gejala yang muncul. Gejala ini biasanya berupa tanda – tanda fisik yang dapat diamati. Berikut ini beberapa gejala serangan hama dan penyakit beserta cara penanggulangannya.

1. Ulat
Hampir semua jenis ulat –prodena litura, Plutella xylostella, Agrotis Sp, dan sebagainya selalu menyerang pada malam hari karena secara alamiah ulat takut terhadap silaunya sinar matahari. Oleh karena, penyemprotan yang paling efektif dilakukan pada senja hingga malam atau waktu suuh hingga terbitnya matahari. Ulat – ulat ini banyak menyerang pangkal batang tanaman muda, daun dan buah.

Penanganan
- Pilih salah satu insektisida yang telah dicantumkan pada tabel di muka dengan pemakaian dosis tertinggi.
- Lakukan penyemprotan 2 – 3 kali denan selang 3 – 5 hari sekali atau bersama – sama penyemprotan rutin. Pemakaian insektisida digilir secara berseling – seling antara sistematik dan kontak.



2. Aphid
Aphid termasuk golongan akarin . hama ini berwarna hijau, hiau kekuningan, cokelat, atau hitam. Apabila menyerang, biasanya mengumpul dibalik daundan sekitar tunas muda sehingga menyebabkan daun mengeriting ke dalam.

Hama ini perkembangbiakannya sangat cepat, apabila pada musim kemarau. Oleh karena itu, pemberantasan sejak dini perlu dilakukan.

Penanganan
- Dilakukan penyemprotan dengan insektisida dengan dosis sesuai dengan petunjuk yang ada pada kemasan obat tersebut, waktu penyemprotan sebaiknya pada pagi hari. Penyemprotan dikonsentrasikan pada permukaan daun bagian bawah, karena bagian bawah, karena bagian bawah daun disukai aphid untuk berlindung atau bersembunyi.

3. Bunga dan Bakal Buah Rontok
Gejala seperti itu disebabkan oleh tiga keungkinan kemungkinan : tanah terlalu kering atau terlalu basah, komposisi unsur hara di dalam tanah kurang tepat, atau terserang jamur Phytophtora capsici.

Penanganan
- Lakukan pengairan bila terlalu kering atau lancarkan pembuangan air bila terlalu basah.
- Jika gejala tersebut dilakukan komposisi unsur hara di dalam tanah kurang tepat, semprot dengan hormone, misalnya atonik, sitozim, abitonik, atau dekamon, dengan dosis sesuai dalam label masing – masing. Tambahkan pupuk daun yang berkomposisi P2O5 dan K2O dan N rendah. Penyemprotan dilakukan empat hari sekali, sampai 2 – 4 kali, terutama pada permukaan daun bagian bawah. Penyemprotan juga dapat dilakukan bersamaan dengan penyemprotan pestisida.
- Jika gejala tersebut disebabkan serangan jamur Phytophtora capsici, siram denan larutan fungisida sistemik, misalnya difolatan dosis 1 cc/liter air atau Topsin dosis 1 gram/liter air, setiap tanaman 0,25 larutan. Fungisida ini disiramkan ke tanah di sekitar pangkal tanaman. Penyiraman dilakukan empat hari sekali, sampai 2 – 3 kali

4. Bercak buah
Tanaman cabai sering berbuah lebat, tetapi banyak bercak hijau kuning atau ujung buahnya menguning, terutama buah muda, dan rontok sebelum merah.

Penanganan
- Gejala seperti ini dapat ditangani dengan melancarkan pembuangan air. Caranya, saluran pembuangan air diperdalam. Permukaan tanah disekitar pangkal tanaman serta pada permukaan tanah sepanjang tepi bedengan atau kiri kanan selokan perlu ditaburi dolomite atau kapur tohor, kemudian diberi larutan fungisida sistemik.

5. Daun dan Bakal Bunga Mengeriting
Daun dan bakal bunga pada pucuk tanaman cabai sering kali terlihat mengeriting sehingga pertumbuhan tanaman terhambat. Gejala ini disebabkan oleh serangan hama trip atau tungau.

Penanganan
- Bersihkan gulma dan rumput di sekitar lahan penanaman.
- Semprot dengan insektisida (lihat tabel jenis insektisida). Penyemprotan paling efektif bila dilakukan pada senja hingga malam hari atau subuh hingga terbitnya matahari. Penyemprotan dilakukan setiap tiga hari sekali, sampai 2 – 3 kali.
- Setelah hama kelihatan habis, semprot dengan hormone dan pupuk daun, sampai 2 – 3 kali, untuk menumbuhkan kembali tunas – tunas pucuk.

6. Layu Bakteri
Mula – mula tunas pucuk tanaman mulai layu seperti kekurangan air, lalu dengan cepat layu total dan mati. Gejala seperti ini disebabkan oleh bakteri Pseudomonas solanacearum. Bakteri ini menyerang bagian akar. Bila suhu tinggi, dan pembuangan air kurang lancer, biasanya penyakit ini muncul dengan cepat.

Penanganan
- saluran air diperdalam agar air bisa terbuang secara lancer. Hentikan sama sekali pengairan sampai penyebaran penyakit dirasa berhenti. Apabila tanaman perlu air, sementara siramkan air di bagian pangkal tanaman.
- Taburi permukaan tanah sekitar pangkal batang serta sepanjang tepi bedengan dengan selokan dengan kapur dolomite atau kapur tohor. Disekitar lokasi yang terseranmg layu, siramkan larutan agrimicin atau agrept dengan dosis 0,5 gram/liter air. Setiap tanaman disiram bagian pangkal batangnya sebanyak 0,24 liter. Tanaman yang sudah mati dicabut dan dibuang jauh dari lokasi atau dibakar.

7. Layu Sementara
Pada pagi hari tanaman tampak segar, semakin siang semakin layu, padahal air tanah cukup. Pada sore hari tanaman kembali segar sampai pagi besoknya dan semakin siang semakin layu lagi. Demikian seterusnya sampai tanaman betul – betul layu dan mati. Gejala seperti ini disebabkan oleh dua kemungkinan :terserang jamur Phytoptora sp atau akibat serangan nematode.

Penanganan
- Jika disebabkan oleh serangan Phytoptora sp,penangannannya dilakukan dengan membersihkan rumput yang ada disekitar tanaman untuk mengurangi kelembapan udara di sekitar tanaman. Kemudian pestisida yang digunakan hasus fungisida yang sistemik.
- Kalau akibat serangan nematode maka akan menampakkan bintil – bintil yang tidak merata di bagian akar. Kalau demikian yang terjadi, pangkal batang harus disiram dengan nematisida dengan dosis terendah. Masing – masing tanaman disiram 0,25 liter larutan.
8. Bercak Putih pada Kulit Buah
Tidak jarang kulit buah cabai berbecak putih melebar. Gejala demikian banyak terjadi pada tanaman yang lemah, berdaun sedikit, rebah, atau buah terbuka dan terkena matahari secara langsung.

Penanganan
- gejala tersebut dapat dicegah dengan menutup buah yang terbuka dengan daun – daun pada cabang disekitarnya. Perlu juga ditambahkan pupuk yang banyak mengandung N pada tanaman yang lemah. Buah yang terserang hebat sebainya dibuang untuk mencegah infeksi dari penyakit lain.

9. Ujung Buah Kuning dan Membusuk
Seringkali didapati buah cabai yang masih hijau tiba – tiba dibagian ujungnya mulai menguning, kemudian membusuk dan akhirnya berwarna kecoklatan. Gejala demikian sering terjadi pada musim kemarau.

Penanganan
- jaga kelembapan tanah , gunakan kapur dasar untuk menjaga agar tanah tetap pada kisaran Ph 6,5 dan gunakan pupuk daun yang memiliki kandungan Ca tinggi.

10. Pecah Buah
Buah cabai terkadang tiba – tiba banyak yang mengalami pecah atau terbelah dengan arah memanjang. Gejala seperti ini diikuti dengan pembusukan dan akhirnya buah rontok. Pecah buah ini sering kali terjadi pada buah yang suadah tua.

Penanganan
- Jaga kelembapan tanah, hindari pengairan secara tiba –tiba dan berlebihan pada saat kering, dan hindarkan buah dari terpaan sinar matahari secara langsung.

11. Kerdil
Setelah pindah tanam hingga umur tertentu sering dijumpai tanaman yang seperti terhambat pertumbuhannya.

Penanganan
- Bila disebabkan oleh tingginya keasaman tanah, siram dengan larutan dolomite, 2 genggam (1ons) per 10 liter air (1 ember). Setiap tanaman disiram sekitar 0,25 liter. Penyiraman harus tepat disekitar pangkal tanaman. Penyiraman dilakukan setiap 4 – 5 hari sekali sampai 2 -3 kali.
- Bila tidak disebabkan oleh tingginya keasaman tanah, siram dengan larutan orea dengan dosis 1 genggam per 10 liter air. Setiap tanaman disiram 0,25 liter. Siramlah pada tanah disekitar pangkal batang dan lakukan setiap 5 hari sekali sampai 2 – 3 kali
- Semprot dengan pupuk daun.


6. Cabai Kering : Alternatif Mengatasi Turunya Harga

Selama ini penanganan pasca panen cabai sangat kurang diperhatikan. Petani menganggap hasil panen cabainya selalu laku dan terserp pasar. Namun, hal itu mungkin berlaku beberapa tahun lalu ke belakang. Untuk masa mendatang, tampaknya petani harus mau mempelajari penanganan pasca panen cabai.

Dengan banyaknya petani yang tertarik budi daya cabai, kemungkinana harga cabai jatuh cukup besar. Bila petani tidak mempunyai alternatif lain selain menjual cabai segar, jelas akan sangat merugikan. Salah satu contoh konkret adalah jatuhnya harga cabai di Brebes bulan Agustus 19996 lalu. Pada saat itu petani tidak mengenal caranya mengeringkan cabai. Akhirnya mereka menjual cabainya degan harga rendah pada pedagang. Pedagang yang mengerti, mengeringkan cabai tersebut sehingga dapat dijual dalam cabai kering yag harganya jauh lebih tinggi daripada cabai segar.

Dari gambaran semacam itu disimpulkan bahwa pengetahuan tentang penanganan pasca panen cabai sangat perlu bagi petani. Selain sebagai alternatif untuk mendapatkan harga jual yang tinggi, pengetahuan seperti itu juga bisa digunakan untuk mengantisipasi bilamana harga cabai jatuh.

A. Macam – Macam Cabai Kering
Cabai kering yang dikenal dipasaran sekarang ini terdiri dari berbagai bentuk : utuh, rajangan, belah, dan tepung. Semua jenis cabai kering ini rata – rata berkadar airmaksimum 8%. Kualitas cabai kering ini lebih sesuai dengan ketentuan atau permintan kensumen, baik rasa, warna, aroma, tingkat kepedasan, kadar kotoran, kadar vitamin (A dan C), bebas hama dan penyakit, serta modulus kehalusannya.

B. Cara Pengeringan
Proses pengeringan cbai sebenarnya tidak terlalu rumit. Banyak cara yang bisa digunakan, mulai dari yang sederhana sampai yang menggunakan mesin. Tahap pertama dalam pengeringan ini adalahpersiapan, lalu dilanjutkan dengan proses pengeringan.

1. Persiapan Pengeringan

Tahap persiapan dalam pengeringan cabai adalah sortasi (seleksi). Pada tahap ini, cabai yang busuk, warnanya jelek, dan tidak seragam dipisahkan dari yang bagus. Dalam sortasi ini juga dilakukan pembuangan tangkai buah. Setelah bersih, cabai tersebut ditimbang. Selanjutnya dilakukan blanching dan perendaman dengan larutan BHT atau asam sulfat yang dicampur air, kemudian dipanaskan sampai mendidih selama 15 menit. Proses perendaman dan pemanasan ini berguna untu menghilangkan hama dan penyakit dalam biji cabai yang akan dikeringka. Setelah itu, ditiriskan sampai agak kering. Cabai – cabai tersebut kemudian ditempatkan pada rak yang telah disiapkan untuk pengeringan. Cabai ini siap dikeringkan dengan sinar matahari, mesin, atau gabungan antara matahari dan mesin.


2. Proses Pengeringan

Cabai yang telah ditempatkan pada rak dapat dikeringkan dengan sinar matahari, mesin pengering, atau gabungan antara sinar matahari dan mesin.

a. Pengeringan dengan sinar matahari
Peng4eringan denfgan sinar matahari memerlukan waktu yang cukup lama. Kadar air yang didapat sulit mencapai 10% dan hasilnya tidak bersih.

b. Pengeringan dengan mesin
Pengeringan dengan mesin dapat menghasilkan cabai kering dengan kadar air 8%. Untuk mendapatkan cabai kering yang berkualitas bagus, panas yang digunakan harus rendah, yakni antara 40-500c selama 24-35 jam. Apabila suhu terlalu tinggi atau pengeringan terlalu lama dari waktu tersebut, warna cabai menjadi gelap.

c. Pengeringan dengan sinar matahari digabung dengan mesin
Selain cara diatas, ada cara lain yang bisa digunakan untuk mengeringkan cabai. Cara tersebut merupakan perpaduan antara pengeringan secara alami dan pengeringan secara mesin.

Pertama kali cabai yang telah dibersihkan dijemur dibawah sinar matahar ihingga kadar airnya mencapai 15-20%. Setelah itu, cabai tersebut dikeringkan lagi dengan menggunakan mesin untuk menekan kadar air sampai 8%. Bila mengandalkan sina matahari, untuk menekan kadar sampai dibawah 10%, diperlukan waktu yang lebih lama. Oleh karena itu, harus digunakan mesin pengering yang bisa diatur suhu ruangnya. Jika menggunakan mesin pengering, pengeringan cabai, setelah dijemur di bawa hsinar matahari, memerlukan waktu 24 jam. Dengan waktu sesingkat ini dapat diperoleh cabai kering berkadar air 8%.


















7. Keuntungan dari Perpanjangan Umur Produktif Cabai

Bagaimanapun dengan memperpanjang umur produktif tanaman, petani akan banyak memperoleh keuntungan. Petani tidak perlua mengeluarkan biaya tanam untuk yang kedua kali atau ketiga kali, tetapi tetap bisa memanen buah cabai secara kontinu. Dengan kata lain, petani tidak perlu membuang biaya awal mulai dari pengolahan tanah sampai tanam, tetapi petani bisa panen tiga kali lipat dari panen biasanya.

Budi daya cabai secara intensif yang umum dilakukan oleh petani bermodal awal sekitar Rp. 15.000.000,- digunakan untuk menyewa tanah, pengolahan tanah, pembelian sarana produksi, dan tenaga kerja untuk 17. 000 batang tanaman dalam satu hektar. Hasil yang diperoleh sekitar 18 ton, tergantung jenis cabai hybrid yang digunakan. Bila harga jual rata – rata Rp. 1.500 /Kg, petani bisa mendapatkan pendapatantotal sekitar Rp.27.000.000,-. Bila dikurangi dengan total biaya produksi sebesar Rp.15.000.000,-, petani akan memperoleh untung sekitar Rp.12.000.000,- dalam waktu sekitar enam bulan.

Bila petani bisa memperpanjang umur produksi cabai, keuntungan petani akan lebih besar lagi disbanding dengan keuntungan yang diperoleh pada periode pertama. Pada periode kedua ini petani hanya mengeluarkan biaya perawatan – pemupukan, pengobatan, dan tenaga kerja – dan sewa lahan yang keseluruhannya ditotal maksimum sekitar 25% dari seluruh modal tanam pertama.

Dalam waktu itu, periode kedua dengan perhitungan satu periode 20 petik atau dari petikan yang ke 21-40, petani bisa panen dengan penurunan produksi hanya 15%, sekitar 15,3 ton dari total produksi periode pertama 18 ton.

Jadi, bila dikonkretkan dalam perhitungan rupiah, pada periode kedua petani hanya mengeluarkan biaya sebesar Rp.3.750.000,-(25% dari modal keseluruhan Rp. 15.000.000,-) dengan modal sebesar ini petani bisa memperolehkeuntungan sebesar19.200.000,-

Angka tersebut diperoleh dari total prodksi dari periode kedua sebesar 15,3 ton. Bila selama periode kedua diasumsikan harga rata – rata periode pertama sebesar Rp. 1.500,-/kg, petani harus memperoleh pendapatan sebesar Rp. 22.950.000,-. Dari total pendapatan tersebut bila dikurangi dengan total biaya selama periode kedua, diperoleh keuntungan bersih petani sebesar Rp. 19.200.000,-.

Demikian juga pada periode ketiga , mulai petikan ke 41-60, petani juga hanya mengeluarkan biaya pemupukan, pengobatan, dan tenaga kerja yang totalnya sama dengan periode kedua, yakni 25% (Rp.3.750.000,-) dari keseluruhan modal tanam pertama (Rp.15.000.000,-).

Dalam periode ketiga ini totoal produksi turun sampai 30% dari total produksi periode pertama sebesar 8 ton, yakni sebear 12,5 ton. Dengan demikian petani bisa mendapat perolehan sebesar Rp.18.900.000,- (total produksi sebesar 12,5 ton x rata – rata harga jual sebesar Rp.1.500,-/Kg). jadi, pada periode ketiga ini petani masih bisa memperoleh keuntungan sebesar Rp. 15.150.000,- (Rp.18.900.000,- dikurang dengan biaya produksi Rp.3.750.000,-)

Perpanjangan umur produkti tanaman cabai, berdasarkan pengalaman, masih efektif dan cukup menguntungkan hanya pada periode panan, satu periode 20 petikan, atau sampai 60 kali petikan. Lebih dari itu sudah dianggap tidak menguntungkan, walau tanaman masih bisa memproduksi. Pada saat itu tanaman akan terus berkembang dan mulai tidak mampu berdiri, mudah roboh. Kalau untuk terus dipertahankan, perlu diberi kayu atau bambu penyanggah supaya tidak mudah roboh oleh terpaan angina. Lagi pula, bila tanaman sudah mencpai ketinggian di atas 170 cm dari tanah, perkembangan cabang sudah terlalu jauh sehingga cabang antartanaman akan saling tumpang tindih. Keadaan it umenbuat pertumbuhan tidak lagi teratur.

Pada keadaan seperti itu, kelembapan di sekitar tanaman akan semakin meningkat. Konsekuensinya serangan hama dan penyakit akan semakin tinggi pula. Untuk penanggulangannya, diperlukan biaya pengobatan yang semakin besar bila disbanding dengan biaya pengobatan sebelumnya.

Bila dipertahankan, biaya pengobatan justru akan semakin besar. Sementara produksi akan terus turun cukup tajan yang kalau dihitung tidak ekonomis lagi. Karena itulah, perpanjangan umur produktif cabai hibrida ini dikatakan sangat menguntungkan bila hanya dipertahankan sampai tiga kali periode panen atau 60 kali petik.























DAFTAR PUSTAKA

Duriat, A.S. 1994. Pengendalian Hama Terpadu pada Tanaman Kentang, Kubis, Cabai dan BawangMerah. Laporan Hasil Penelitian ARM-P 1993/1994 Balithort Lembang.

Edmon, J.B.T. et al. 1979. Fundamentals of Horticulture. New York: Mc. Graw Hill Book Company.

Grubben, G.J.H. 1977. Tropical Vegetables and Their Genetic Resource. Netherland : Royal Tropikal institut

P., final. 1995. Agribisnis Cabai Hibrida. Jakarta: Penebar Swadaya.

Purwowidodo, M. 1992. Telaah Kesuburan Tanah Bandung : Angkasa.

S., Harjowigeno. 1987. Ilmu Tanah. Medyatamasarana perkasa.

Syaifuddin, S. 1986. Kesuburan dan Pemupukan Tanah Pertanian. Pustaka Buana.

Setiadi. 1990. Bertanam Cabai. Jakarta: Penebar Swadaya.

Sunaryo, H. 1989. Budi Daya Cabai Merah. Bandung : Sinar.

Thompson, M. dan F.R. Treh. 1975. Soil and Soil Fertility. 3rd ed. New delhi: Macmillan publ. co.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar